Hakimtea @ Wordpress.com

Tragedi Zakat, Tragedi Pasuruan, Demi Zakat 21 Orang Tewas! Bagaimana Pembagian Zakat yang Benar…?

Posted on: September 15, 2008

Siang ini headline news menyorot tragedi pasuruan, tragedi zakat, tragedi pembagian zakat yang memakan korban 21 orang tewas terjepit, terhimpit kumpulan manusia yang “antri” dalam pembagian zakat yang dilakukan pengusaha asal Pasuruan, Haji Syaikon RT 3, RW 4, Kelurahan Purutrejo, Kecamatan Purworejo, Kota Pasuruan. Tidak “tanggung-tanggung” rencana jumlah zakat yang akan dibagikan itu masing-masing hanya berkisar antara 30-40 ribu rupiah.

Narasumber yang selamat atas kejadian itu seorang ibu muda menyatakan saat antrian manusia yang didominasi ibu-ibu tersebut pada pukul 9 pagi pintu gerbang sempat terlihat akan dibuka dan itu menyebabkan reaksi manusia yang sejak pagi mengantri mendekati pintu gerbang rumah H. Syaikon. Ternyata pintu gerbang yang sempat akan terbuka tersebut tertutup kembali dan penjaga menyatakan akan dibuka pada pukul 10. Kericuhan pun tak terhindarkan, ribuan pengantri saling berdesak-desak mendekati gerbang namun karena pintu kembali tertutup barisan terdepan terpaksa mundur yang mengakibatkan pengantri dibelakangnya terdesak ikut mundur, terhimpit diantara pengantri depan dan belakang.

Sebanyak 21 orang tewas semua berjenis kelamin perempuan dari umur 35 sampai 60 tahun akibat terhimpit dan kehabisan nafas diantara ribuan manusia saat antri . Jenazah korban tewas akibat kericuhan saat pembagian zakat tersebut dilarikan ke Rumah Sakit Dokter Sudarsono, Pasuruan. Dan pada sore harinya (15/9) sekitar pukul 16.30 WIB, semua jenazah diangkut dengan enam mobil menuju rumah keluarga masing-masing.

Tragedi pasuruan ini membuka mata kita akan pembagian zakat…? Sudah tidak layak lagi pembagian zakat dengan memanggil mustahiknya kerumah kita. Pembagian zakat yang benar adalah jika seorang muzaki (atau amil) mendatangi sang mustahik dan memberikan bagian seperti yang dicontohkan Rasulullah Saw pada saat pembagian zakat fitrah. Dan sudah selayaknya pembagian zakat tidak dengan azas pukul rata asal semua kebagian karena itu hanya akan mengakibatkan kemiskinan abadi. Sudah saatnya memikirkan pembagian zakat yang berpikir ke depan. Yakni pembagian zakat yang berpikir menjadikan mustahik menjadi muzaki pada waktu yang akan datang. Jika pembagiannya masih pukul rata maka untuk melahirkan muzaki baru sangat mustahil.

Oleh karenanya selektif dalam memilih mustahik dan memberikan bagian zakat untuk menjadi modal usaha sehingga menjadikannya seorang muzaki pada waktu yang akan datang.

Jika mustahik zakat hanya menerima 2.5 kg beras, uang sebesar 20.000 mana bisa menyelesaikan masalah kemiskinan. Pembagian zakat seperti itu hanya akan mewariskan kemiskinan abadi.

Kepada para amil, ZIS, BAZIS dan lembaga yang biasa membagikan zakat, cobalah untuk membagikan zakat secara rolling, meskipun tahun ini dipilih hanya membagikan untuk 10 orang namun itu lebih baik jika 10 orang tersebut berhasil menjadi muzaki pada tahun berikutnya. Ketimbang membagikan kepada 100 orang namun 100 orang tersebut tetap menjadi mustahik pada tahun berikutnya.

Wallahu a’lam

Hakimtea

4 Tanggapan to "Tragedi Zakat, Tragedi Pasuruan, Demi Zakat 21 Orang Tewas! Bagaimana Pembagian Zakat yang Benar…?"

walau bagaimanapun, kita harus berterima kasih kepada h. syaikhon dan para korban. karena, dg peristiwa yg menimpa mereka inilah, kita semakin tersadarkan akan pentingnya zakat dilakukan dg ikhlas dan profesional…🙂

Mudah2an dengan kejadian ini kita semua koreksi diri.

saya turut berduka atas kejadian ini,dan saya berharap bagi para pemberi zakat agar bisa lebih memahami arti zakat itu sendiri dan bagaimana cara yang baik memberikan zakat tersebutkepada para penerima zakat..

mudah2_an atas kejadian ini kita bisa lebih selektip dan lebih sadar atas apa yang kita perbuat dan apa yang akan timbul akibatnya..

terimah kasih…

hampir tiap tahun kejadian seperti ini berulang. ini menunjukkan kemiskinan masih merajalela dinegeri kita. sepertinya sudah jadi penyakit abadi. kemiskinan bukan lagi masalah, tapi budaya. orang jadi malas bekerja karena meminta saja sudah dapat. budaya meminta-minta😦

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: