Hakimtea @ Wordpress.com

Orang Gila di Lampu Penyebrangan

Posted on: Maret 10, 2008

Setahun belakangan ini aku terus berpikir tentang keberadaanku, eksistensiku di dunia ini, untuk apa dan untuk siapa aku hidup. Merenung dan bertanya-tanya pada diri sendiri, nggak jauh dengan orang gila di lampu penyeberangan sana yang selalu bergumam sendiri, ya di sana… di perempatan lampu merah, trafic light perempatan jalan sana, pakaiannya tercabik-cabik, lusuh, compang-camping, mirip korban perang.

Suatu hari saat aku hendak menyeberangi trafic light itu terdengar jelas di telinga kiriku yang bertindik dua berjajar, mirip vokalis Match box twenty, Rob Thomas, salah satu vokalis yang paling aku gandrungi waktu itu apalagi saat dia duet bareng Carlos Santana, gitaris gaek namun masih kahot dan termasuk gitaris papan atas dunia. Rob saat itu bawain lagu Smooth yang berarti “Mulus”, wah gila bener mann… Aku sendiri pernah bawain lagu itu ma bandku, Reggie Ray Band yang kemudian berubah nama jadi Adlee band. Mantab bener lagunya, apalagi melodi gitaris gaek itu mampu diikuti gitaris bandku.

Salah satu perenungan itu akan eksistensiku di dunia entertainment ini. Pun termasuk gayaku dalam berbagai hal termasuk pakaian dan penampilan yang notabene berkiblat pada budaya barat yang saat itu mulai aku hindari karena berbagai artikel yang kubaca mengenai keburukan pengaruh budaya tersebut pada remaja Indonesia. Saat itu aku masih terbilang remaja yang tengah mencari jatidiri di tengah hegemoni masyarakat heterogen ini.

Oh iya, orang gila ituuu… Aku ralat dulu istilah “orang gila” karena aku nggak cukup tega menyebut seperti itu, sebut aja orang yang sedang sakit atau aku singkat dengan OS2 (Oz two). Dia berteriak saat trafic light mulai hijau, tentu saja suaranya berlomba dengan kendaraan yang mulai masuk gigi satu tancap gas. Tapi karena dia terlampau dekat denganku suaranya masih terdenger jelas, dia berteriak,

Wahai orang-orang yang angkuh…! Bersimpuhlah kalian…!
Karena akupun termasuk orang-orang angkuh seperti kalian…!
Wahai orang-orang yang sombong…! Menggonggonglah…
Layaknya anjing-anjing terminal yang kelaparan…!
Wahai orang-orang bermuka dua…!
Kenapa tak kau tambah mukamu menjadi tiga, empat, lima…

Dia termenung sejenak, seakan berpikir, lalu menghampiriku dengan tatapan matanya yang liar, tajam dan menusuk cukup membuatku takut, bahkan pikirku preman pun mampu dijadikannya pengecut. Aku sempat berpikir ambil langkah seribu, lari, kabur dan berlalu, tapi Oz two terlanjur memegang tanganku lantas bertanya dan sorot mata yang tetap tajam dan menusuk,

Apa…? Apa…? Berapa…? Setelah lima itu berapa…? Aku lupa…! Aku lupa…!

Gila, jantungku hampir dibuatnya copot, apalagi saat dia menarik-narik tanganku, dengan mulut gemetar kujawab… enn…ennam pak! Oz two tersenyum memandangku dan berkata,

Ya iya laaah…(gayanya mirip cewek2 ABG) Tapi suer lho, aku tidak salah memilih tempat bertanya…! Hei kamu cowok cakep, you masih remaja, remaja masih riskan dalam menentukan jatidirinya, dengarkan nasihatku, jangan salah memilih tempat bertanya, karena itu akan menentukan pilihan hidupmu!

Oz two menasihatiku sambil tertawa terbahak-bahak kemudian dia melepaskan tanganku yang masih tercengang dengan nasihatnya, benarkah dia gila? Kalau benar gila, mustahil dia mampu memberi nasihat yang begitu bermakna menurutku. Oz two berpaling berjalan menuju tiang lampu merah memeluknya sambil berkata dengan nada rendah dan mata berkaca-kaca, sejenak kemudian dengan nada tinggi seakan mengumpat mereka yang membuatnya marah, sejenak kemudian dia berteriak dengan tawa yang terbahak, lalu kembali berkaca-kaca dan menangis…

Malang sekali apa yang harus aku terima… setan alaaassss…! Kenapa kalian tega…? Kenapa…? Apa salahku…? Aku tak pernah berdusta…! Dunialah yang slalu berdusta…!

Mana mungkin saat melihat buah apel jatuh… dia temukan gaya gravitasi…

Mustahil saat mengerami telur, Edison temukan lampu pijar…!
Mana mungkin orang tuli seperti si Graham Bell bisa menemukan telephon…!

Mustahil…! Mustahil manusia semulia kita dikatakan hasil evolusi dari kera… Kalianlah yang kera…! Setidaknya rakus bagaikan kera…! Tapi aku… Aku bukan berasal dari kera… aku tidak rakus seperti kera… Aku berasal dari Adam, manusia pertama yang diciptakan Tuhan…! Semua dusta…! Dusta…! Dunia telah melakukan kedustaan, kebohongan publik… Kedustaan semakin merata…! Hanya saja kalian tidak sadar…!
Dan kalian tahu…? Satu lagi kedustaan yang kini mulai terungkap…. Ternyata tidak pernah ada manusia yang pernah menginjakkan kakinya di bulan, tidak pernah ada… bullshit jika Neil Armstrong pernah mendengar suara adzan di bulan, kenapa? karena dia belum pernah menginjakkan kakinya disana… Bodo amat sih lho! Belum ada manusia yang mampu menginjakkan kakinya di sana. Hanya untuk mengalihkan perhatian saja, agar ummat Islam memandang benar kebohongan mereka… dan akhirnya para astronot itu termasuk Neil Amstrong mati satu-per satu karena sebab yang tidak wajar; kecelakaan lalu lintas, home accident, kecelakaan kecil yang membuat nyawa mereka terengut tak berarti, itu semua karena kebiadaban negara yang mengaku polisi dunia, yang katanya menjungjung tinggi HAM, tapi kenyataannya merekalah pelanggar HAM terbesar dan terberat di dunia ini.

Kenapa….??? Kenapa??? Kenapa harus aku yang menjadi korban, dia tidak membunuh munir sang penjungjung tinggi HAM, tanyakan pada BIN, Badan Intelegent Negara, siapa yang meracuni Munir? Tanyakan pada mereka, kenapa Michelle Leslii, hanya dijatuhi hukuman 3 bulan dipotong masa tahanan lalu bebaslah dia, sedangkan anakku, di saku celananya ada selinting ganja dan dia pun bersumpah tidak tahu-menahu kenapa ganja itu ada di sana, anakku dihukum 3 tahun penjara….! Keadilan macam apa ini…???

Oz two menangis dipelukan tiang lampu merah. Aku tidak mengerti apa yang dia bicarakan… Bising mesin kendaraan menelan tangisannya. Airmatanya seperti hujan deras di bulan september, membeku bagaikan salju di bulan Desember, mukanya memerah seperti terik mentari di bulan Agustus. Tak terputus tangisannya saat aku seberangi lampu merah itu.
Diseberang sana kusempatkan menoleh untuk terakhir kalinya ke arah Oz two, dia menatapku, tersenyum tanpa arti. Traffic Light mulai hijau, kendaraan pun berlomba bagaikan memasuki start balapan.
Sebuah kendaraan dinas berflat merah meluncur deras dikejauhan sana, tiba-tiba Oz two meloncat ke tengah jalanan, tertabrak tak terhindarkan, terlindas tak dapat terelakkan, darah Oz two bercucuran menggenangi jalan… merah tampak jelas, semerah flat mobil dinas.
_________________
Edit from my story “Oz Two” Januari 2k1 posted in Februari 2005.

3 Tanggapan to "Orang Gila di Lampu Penyebrangan"

Nyasar yang mengenakkan😀

keren abis, kayaknya Oz2 itu mantan filsuf, hehe… jadi belajar sama orang, eh sama Oz2

tks cerpennya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: