Hakimtea @ Wordpress.com

Satu Pukulan

Posted on: Maret 4, 2008

Rahul, dia telah kehilangan kesadarannya mengarungi hidup. Dia tidak bisa membedakan antara mimpi dan kenyataan. Hidupnya seperti daun yang jatuh dari dahan, kemana angin berhembus kesanalah dia pergi. Saat itu kita baru duduk di bangku SMU kelas satu, gejala itu mulai terlihat; termenung, melamun, terdiam, menyendiri dan tertutup.

Saat itu Aku, Amien, Ronald, Alwani, Saef, dan Rahul masih tetap bersama sebagai enam orang sahabat yang senantiasa bersama baik ketika belajar maupun bermain meski kita semua terpisah kelas. Aku, Amien dan Ronald dikelas B, Alwani, Saef dan Rahul lebih memilih di SMU 2 meski tetap satu atap dengan SMU 1.

Pelatihan komputer program MS. Ofice di UNISBA kita sama-sama menjadi utusan 2 SMU ini. Namun Rahul urung mengikuti pelatihan yang kita anggap mempunyai peran penting untuk kehidupan sekolah kita nanti sebagai pengalaman, dan acuan untuk masa depan agar jam kegiatan kita semakin bertambah meski sebelumnya kita memang telah terbiasa dengan aplikasi komputer tersebut sebelumnya.

Alwani yang sering mengingatkan aku untuk memperhatikan kondisi Rahul, tapi dia semakin tertutup dengan kondisinya. Memasuki tingkat dua, Amien mengundurkan diri dari sekolah karena tekanan anak-anak lain, dia tidak cukup tegar untuk menghadapi tantangan, dia lebih memilih “ujlah” dari kehidupan sekolah.

Memasuki semester terakhir ditingkat tiga membuat kita sibuk dengan program belajar masing-masing, sementara Rahul dia tertinggal di kelas dua…

[Bersambung…]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: